Mengapa Fir’aun Harus Dimumi?

Sejak zaman pra-dinasti Mesir Kuno 3200 SM sampai terakhir, Mesir diperintah oleh raja. Anehnya, waktu itu rakyat Mesir tabu kalau memanggil nama rajanya yang sebenarnya. Biar lebih mudah, mereka menyebut rajanya Fir’aun. Dalam sistem pemerintahan di Mesir, kedudukan raja sangat penting. Dia dihormati dan dipatuhi rakyatnya. Sebelum dinasti Fir’aun muncul, di muka bumi boleh dibilang belum ada peradaban.

Maka, di Mesir kuno ada kebiasaan sangat jelek. Kalau ada orang meninggal, mayatnya hanya ditimbuni pasir. Itu tidak manusiawi. Namun setelah dinasti Fir’aun pertama muncul, sang raja peduli terhadap orang meninggal dunia.

Alasannya, sesama umat orang meninggal harus dihormati. Lebih-lebih yang meninggal itu pemimpin karismatik yang banyak jasanya terhadap nusa dan bangsa. Maka sewaktu meninggal, jenazahnya harus dihormati dan dirawat dengan baik.

Mulanya Fir’aun memiliki ide membuat makam. Makam pertama yang dibuatnya dinamakan Mustaba. Mustaba adalah makam yang dibuat dari bata. Panjangnya 4 meter, tinggi 1,5 meter, dan lebarnya 2 meter. Makam itu atapnya berlubang-lubang. Dindingnya dari porselen yang dipasang miring dan dilukis dengan seni geometrik.

Mustaba memiliki banyak kamar. Salah satu kamarnya untuk menyimpan jenazah, sedangkan yang lain untuk menyimpan barang-barang.

Masyarakat Mesir kuno sebenarnya sudah beragama, namun mereka masih mempunyai banyak kepercayaan. Mereka menyembah banyak dewa. Mereka menganggap setiap mayat yang utuh merupakan tempat bagi roh dan kehidupan mereka sesudah mati. Mereka juga percaya, Fir’aun akan tetap hidup di dalam jenazahnya dan menjadi dewa setelah mati. Beranjak dari itu, pembuatan makam yang semula dari Mustaba kemudian berkembang menjadi Piramida.

Sejak 3200 SM lahir budaya mumi. Orang yang meninggal jenazahnya tidak dimakamkan di piramida, namun agar jenazahnya tahan lama dan tetap utuh, harus dirawat dengan pembalseman yang disebut mumi.

Pertama, otak dikeluarkan melalui lubang hidung. Selanjutnya isi perut, kecuali hati dan ginjal, dikeluarkan melalui pembedahan sisi perut sebelah kiri. Agar mayat itu kelihatan utuh, di dalam rongga badannya dimasukkan damar atau lilin.

Setelah itu tubuhnya dilumuri lempung lalu dijemur. Setelah kering, dicuci sampai bersih. Selanjutnya dilumuri minyak wangi.

Tahap terakhir, jenazah dibungkus kain kafan dengan cermat dan hati-hati. Kemudian jenazah disimpan dalam peti yang berlapis tiga. Peti bagian dalam dibuat dari kayu, di luarnya dari batu dan dinding paling luar diukir dengan emas. Peti jenazah Fir’aun beratnya mencapai 110 kg.

Waktu pemakaman yang dimasukkan di dalam peti jenazah Fir’aun dan perlengkapannya, termasuk perahu besar kendaraan Fir’aun. Konon, perahu besar itu akan digunakan untuk mengadakan inspeksi Fir’aun ke daerah-daerah jajahan.

Sumber: Tabloid Yunior – Suplemen koran Suara Merdeka edisi Minggu

Iklan

Tentang Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s