Mengapa Abjad Disebut Alfabet?

Pada zaman dahulu, orang mencatat atau menyampaikan berita tertulis dengan cara menggambar benda-benda. Misalnya, seseorang mencatat atau mengabarkan bahwa kerbaunya mati, maka ia menggambar seekor kerbau mati. Cara seperti ini disebut pictograf. Mereka menggambar di batu-batu, kulit kayu, atau bisa juga di atas lempengan yang terbuat dari tanah liat.

Ribuan tahun lampau, orang Mesir kuno tetap “menulis” dengan cara menggambar benda-benda. Padahal mereka sudah lama menggunakan sejenis kertas dari daun papirus. Karena terdesak oleh kesibukan-kesibukan yang lain, sering kali gambar-gambar itu dibuat dengan tergesa-gesa. Akibatnya, gambar-gambar itu cenderung berbentuk garis-garis sederhana.

Sebuah gambar benda hanya berupa goresan beberapa garir. Namun ada hal yang belum berubah, yaitu tiap gambar mewakili satu objek benda. Lama kelamaan, gambar-gambar sederhana itu berubah hanya menjadi simbol-simbol kata yang disebut ideograf.

Tetapi orang Mesir kuno menyebutnya hiroglif. Sistem tulisan dengan simbol kata-kata ini sangat rumit, sehingga hanya diketahui sebagian orang saja. Terutama para bangsawan dan orang-orang kaya pada masa itu.

Di negeri-negeri Timur Tengah, sistem penulisan terus menerus mengalami perkembangan. Penulisan dengan simbol kata-kata akhirnya berubah memakai huruf. Goresan garis-garis yang digunakan untuk menerangkan objek benda menjadi kian sederhana bentuknya, yaitu hanya berupa huruf-huruf. Lalu tiap huruf diberi satu bunyi yang berasal dari nama benda aslinya.

Kira-kira sejak tahun 1500 sebelum masehi, orang-orang Palestina dan Suriah mulai menggunakan kode yang mewakili satu bunyi. Mereka juga mulai menulis dari kanan ke kiri. Huruf-huruf ini lalu dipakai oleh oleh orang-orang Punisia yang tinggal di pantai-pantai Suriah. Secara berangsur-angsur, mereka menyederhanakan bentuk-bentuk huruf. Orang-orang Punisia inilah yang kemudian dikenal sebagai penyebar sistem huruf dan pemakaiannya ke berbagai negara. Bangsa Punisia kebanyakan adalah pedagang yang sering bepergian ke negeri-negeri yang jauh, bahkan sampai ke Inggris. Orang-orang Punisia pula yang membuat bentuk-bentuk huruf yang sekarang kita kenal sebagai abjad. Tapi waktu itu jumlahnya masih kurang dari 26 huruf.

Selama bertualang sebagai pedagang, orang-orang Punisia akhirnya sampai ke Yunani. Ternyata orang-orang Yunani tertarik dengan simbol-simbol huruf yang dipakai orang-orang Punisia. Orang-orang Yunani kemudian mempelajarinya. Bahkan mereka mengubah beberapa huruf dan menambah beberapa bunyi vokal. Selain itu mereka juga menamakan huruf-huruf yang telah mereka sempurnakan dan dipakai dalam kegiatan menulis sehari-hari.

Huruf pertama disebut “alfa”, huruf kedua “beta” dan seterusnya. Karena nama kedua huruf pertama inilah akhirnya sistem huruf tersebut dinamakan “alfabet”. Dan nama ini dipakai hingga sekarang, merupakan sebutan lain dari abjad, terdiri 26 huruf; A, B, C, dan seterusnya sampai Z.

Sumber: Koran Suara Merdeka

Iklan

Tentang Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke Mengapa Abjad Disebut Alfabet?

  1. giltagina berkata:

    kalau tulisan arab bukankah lebih dulu ada, kenapa masih menggunakan gambar waktu itu? duluan mana sih sama masa nabi.

  2. giltagina berkata:

    kalau dengan zaman nabi, duluan mana sih? soalnya kan udah mengenal tulisan arab, bukan gambar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s