Rahasia Kecepatan Paruh Hummingbird

Bentuk paruh burung hummingbird dirancang untuk menutup dengan cepat sehingga membuat burung itu mampu menangkap serangga terbang hanya dalam waktu sepersekian detik. Paruh tesebut bisa menutup secara elastis, tapi terkontrol dengan kecepatan dan tenaga yang luar biasa dibanding apa yang bisa diberikan oleh otot rahang saja.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Theoretical Biology itu mengungkapkan bahwa paruh hummingbird dirancang untuk mengambil makanan di bunga-bunga. Tapi, burung madu ini tak bisa hidup dengan mengkonsumsi nektar saja. Untuk memenuhi kebutuhan protein dan nutrisi yang cukup, hewan tersebut harus makan serangga kecil juga.

“Hummingbird memerlukan protein yang setara dengan 300 lalat sehari untuk tetap hidup,” kata Gregor Yanega, peneliti studi itu dari National Evolutionary Synthesis Center di Durham, Carolina Utara.

Namun, bagaimana paruh tipis dan panjang yang dirancang untuk mengisap nektar, seperti paruh burung kolibri, juga cocok untuk menangkap serangga, bahkan ketika serangga itu terbang?

Pada 2004, Yanega dan Margaret Rubega, ahli biologi University of Connecticut, melaporkan bahwa jawabannya terletak pada paruh hummingbird yang fleksibel. Dengan menggunakan video berkecepatan tinggi dari tiga spesies hummingbird dalam menangkap lalat, para peneliti menemukan bahwa paruh bawah hummingbird melengkung hingga 25 persen ketika terbuka serta melebar di bagian pangkal dan memperluas permukaan untuk menangkap serangga.

Ketika menyaksikan video ultracepat itu, Yanega juga menemukan hal lain. Ketika paruh kolibri menekuk dengan maksimal, paruh tersebut seperti per yang melesat kembali ke posisi semula setelah diregangkan dan langsung menutup.

“Paruhnya menutup dalam waktu kurang dari seperseratus detik,” ujarnya. “Cepat sekali.” Bersama Matthew Smith dan Andy Ruina dari Cornell University, Yanega mengungkap rahasia kecepatan paruh hummingbird ketika menutup.

Mereka mengembangkan model matematika dari energi elastis paruh ketika meregang terbuka hingga waktu menutup dengan tiba-tiba. Triknya terletak pada bagaimana paruh terbentuk.

Berbeda dengan burung pemakan serangga, seperti burung layang-layang dan elang yang memiliki engsel tulang rawan di dekat pangkal paruh, hummingbird memiliki paruh dari tulang padat.

“Paruhnya supertipis,” kata Yanega. “Membuat paruh bawah kuat, namun lentur seperti papan selam.”

(tempointeraktif.com)

Tentang Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s